/* */

Selasa, 20 Februari 2018

Risiko Kanker dari Gaya Hidup Milenial

kanker, kesehatan, gaya hidup tidak sehat

Emily Morisson adalah seorang tenaga pemasaran di sebuah perusahaan keuangan di New York, yang baru berusia kepala dua. Ia memilliki gaya hidup seperti kebanyakan milenial lainnya, senang berkumpul, sembari sesekali minum anggur di akhir pekan. Ia juga rajin yoga.

Sekilas, kehidupan Emily terlihat baik-baik saja. Seminggu sebelum ulang tahunnya ke 24, dokter memvonis Emily mengidap kanker otak. Ada tumor ganas yang terus berkembang di kepalanya. Dua tahun setelah itu, pada 2014, Emily kembali harus menerima vonis pahit. Ada tumor baru yang tumbuh di saraf optiknya, dan menelan penglihatannya sebelah kanan. Sementara, mata kirinya diprediksi dokter bisa buta kapan saja.

Lantas bagaimana ia jalani hidup? “Dalam dua tahun terakhir, setidaknya aku membuat penyesuaian dalam hidup,” ungkap Emily.

Ia menjadi advokat bagi para pemuda pengidap kanker melalui sebuah organisasi bernama Stupid Cancer dan menjadi donatur terbesar di sana. Ia berhasil mengumpulkan lebih dari $65 ribu untuk disumbangkan kepada National Brain Tumor Society untuk penelitiannya. Emily yakin bahwa banyak penelitian telah menyelamatkan nyawa dan setiap sen sangat berarti.

Kisah ini sayangnya adalah unggahan terakhir di blog Emily Morisson. Kisah yang juga pernah terbit di Majalah CURE pada Mei 2013 ini diunggahnya kembali ke dalam blog pada tahun berikutnya. Emily sempat jadi penyintas kanker sebelum penyakit itu kembali datang dan membuatnya buta, lalu mati muda.

Unggahan terakhir Emily ini tentu saja membuat hati perih. Umurnya masih 27 saat harus menyerah melawan kanker. Kematian orang muda selalu saja meninggalkan duka tersendiri.

Di Amerika, muda-mudi yang senasib dengan Emily cukup banyak. Laporan National Career Institute (NCI) 2015 menyebutkan sebanyak 70 ribu pemuda usia kisaran 18-34 tahun didiagnosa kanker setiap tahunnya. Berdasarkan laporan ini, para milenial cenderung lebih gampang didiagnosa terkena beberapa jenis kanker tertentu. Di antaranya kanker kelenjar getah bening, melanoma atau kanker kulit, kanker testis, kanker tiroid, sarkoma atau kanker tulang, dan kanker otak. Persis seperti yang dialami Emily.

Kanker merupakan salah satu penyakit mematikan yang disebabkan oleh beberapa faktor. Menurut cancer.org, penyebab kanker antara lain faktor genetika, gaya hidup seperti pengonsumsian tembakau, diet, paparan sinar UV, paparan sinar radiasi, dan zat-zat penyebab kanker atau karsinogen. 

Dengan jumlah penyebab yang cukup beragam, kanker sebenarnya bisa menyerang siapa saja. Sebab pada kenyataannya, kanker pernah terdiagnosa pada anak kecil, pemuda, hingga orang tua.

Tapi yang menarik adalah angka 70 ribu pada laporan NCI. Angka ini mencapai 5 persen dari total penderita kanker di Amerika, enam kali lebih banyak dibandingkan kanker yang diderita anak-anak usia 0-14 tahun. Ini menandakan bahwa risiko kanker pada generasi milenial sudah pada taraf yang tidak bisa diremehkan.

Redaktur rubrik Kesehatan The Huffington Post Susan Blumenthal, M.D dalam laporan berjudul “How Healthy Are Today’s Young Adult?” menyebutkan, generasi milenial menyimpan potensi ancaman kesehatan berkaitan gaya hidup mereka. Ancaman itu berupa kesehatan fisik dan juga mental. Dituliskan oleh Susan, mereka yang lahir antara 1980-2000, cenderung lebih gampang mengalami masalah terhadap kesehatan jiwanya dibandingkan generasi sebelumnya. Hal ini paling utama dipengaruhi oleh gaya hidup milenial yang berkembang pesat sejalan dengan perkembangan teknologi.

Namun menurut Susan, tak hanya mengusik jiwa, gaya hidup milenial ini juga bisa merusak raga. Bak generasi-generasi sebelumnya, milenial juga terindikasi hidup tak sehat dengan mengonsumsi alkohol. Enam sampai delapan persen pria dan tiga sampai lima perempuan di kategori umur ini adalah peminum berat. Seperlimanya peminum saat pesta. Mereka bisa minum 5 botol setiap harinya, setidaknya untuk 12 hari dalam setahun. Alkohol ini memberikan ancaman karena bisa menyebabkan kecelakaan fatal di jalan raya. Selain juga ancaman kesehatan jika mengkonsumsinya secara terus menerus dalam batas yang tidak bisa ditolerir tubuh.

Selain alkohol, gaya hidup yang tidak sehat adalah berkaitan dengan rokok. Pada 2006 saja, hampir 30 persen milenial adalah perokok. Empat puluh persen milenial berusia 18-20 menggunakan obat-obatan terlarang. Sepertiganya berusia 21-25, seperempatnya berusia 26-29.

Di Amerika, selain rokok dan alkohol, ada pula satu gaya hidup yang disadari berbahaya tapi tetap dilakukan para milenial yakni tanning, atau proses membuat kulit lebih berwarna.

Juni tahun lalu, American Academy of Dermatology (AAD) melakukan survei pada wanita milenial. Hasilnya mengejutkan. Tujuh puluh satu persen wanita berusia 18-34 tahu kalau tak ada yang namanya tanning sehat. Sebab, baik berjemur di bawah matahari ataupun berbaring di dalam mesin tanning, tren fashion satu ini tetaplah berbahaya. Survei yang sama juga menunjukkan bahwa 98 persen dari mereka paham kalau kanker kulit sangat mematikan.

Hal ini sejalan dengan peningkatan angka wanita muda yang didiagnosa mengidap melanoma, bentuk paling mematikan dari kanker kulit. AAD bahkan mencatat jenis kanker ini adalah kasus paling sering ditemukan nomor dua pada wanita milenial. 

“Namun, yang aneh adalah mereka tetap melakukannya meski sadar bahaya yang mengintai,” kata  Elizabeth Martin, dermatologi dari AAD.

Susan menambahkan dalam laporannya, generasi milenial Amerika memang hanya berjumlah 27 persen dari total penduduk mereka. Tapi milenial adalah 100 persen masa depan negara itu. Proses regenerasi harus diperhatikan negara, sehingga mau tak mau kesehatan para milenial ini harus jadi salah satu prioritas.

Di Indonesia sendiri, belum ada riset yang menjelaskan angka terjadinya kanker pada generasi milenial. Tapi secara keseluruhan, menurut Riset Kesehatan Dasar 2013, prevalensi penyakit kanker di Indonesia mencapai 330.000 atau sekitar 0,14 persen.

Yogyakarta, yang dikenal sebagai kota pelajar dengan populasi milenial sekitar 1.185.300 jiwa menjadi tempat dengan penderita kanker terbanyak di Indonesia, yang jika dipersentasekan mencapai 0,41 persen. Diikuti dengan Jawa tengah (0,21 persen), Bali (0,20 persen), dan Jakarta (0,19 persen). 

Data-data ini kalau tidak jadi pengingat bagi para milenial untuk lebih menjaga kesehatan, setidaknya bisa juga jadi motivasi untuk melakukan banyak hal dan menginspirasi agar tidak mati muda seperti Emily Morisson. 

sumber

Related Post