/* */

Senin, 05 Februari 2018

Marah-Marah Usai Bergairah

sex, kesehatan, bergairah, orgasme, pcd, kekerasan seksual, seksualitas

Inisialnya CS. Lelaki 52 tahun itu, memasuki lift dengan muka tenang. Dari rekaman CCTV, ia terlihat  menarik boks plastik dengan troli di tower apartemen Tower B Apartemen Mediterania Marina, Ancol, Jakarta Utara, Minggu, dua pekan lalu.

Belakangan polisi menangkap CS. Ia dituduh telah membunuh F di apartemennya. Untuk menghilangkan jejak, ia memasukkan jenazah F ke dalam boks plastik dan membuangnya di kolong tol lingkar luar Jakarta Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara.

Menurut polisi, sebelum membunuh F, pelaku mengaku marah dan tersinggung saat korban mengejeknya "loyo" dan “cepat keluar” usai berhubungan badan. Setelah beberapa saat, pelaku memukul kepala korban dengan kayu dan mencekik korban hingga tewas.

Di Indonesia penelitian ilmiah tentang pria naik pitam kepada perempuan—atau sebaliknya—setelah berhubungan intim seperti dalam contoh kasus CS masih sangat minim. Sementara di Barat, sejumlah peneliti telah melakukan kajian tentang perilaku marah-marah—atau bahkan sangat sedih—setelah berhubungan intim sudah dirintis. Para peneliti menyebut perilaku semacam itu dengan istilah Pasca-Coital Dysphoria (PCD) atau Post-Sex Blues (PSB). Penderita PCD akan mengalami kesedihan, kecemasan, dan kegelisahan sejak usai berhubungan intim hingga dua jam kemudian.

Sejauh ini, para peneliti berkesimpulan bahwa PCD bisa dialami para laki-laki dan perempuan. Peneliti juga berkesimpulan PCD berbeda dengan periode refrakter, kondisi di mana seseorang—umumnya laki-laki—tidak bisa orgasme lagi dalam rentang waktu singkat setelah ejakulasi. PCT cenderung pada efek emosional setelah berhubungan intim daripada fisiologis.

Tentang PCD ini, Journal of Sexual Medicine, Oktober tahun lalu, mengungkap 46 persen dari 230 responden mahasiswi di Inggris mengalami gejala PCD setidaknya sekali dalam hubungan intim mereka. Sedangkan lima persen dari jumlah responden itu telah mengalami PCD beberapa kali. Penelitian juga telah menunjukkan bahwa 10 persen dari perempuan mengalami PCD yang ditandai  dengan kecemasan, rasa melankolis, depresi, atau agresi.

Kepada Cosmopolitan, Mei lalu, Dr. Robert Schweitzer, peneliti utama dari penelitian di Inggris tersebut, mengatakan bahwa sekitar 1 persen dari responden mengatakan PCD mungkin juga umum terjadi pada pria. Tapi karena penelitian tentang PCD ini baru pertama kali dilakukan masih sulit bagi peneliti untuk mengetahui bagaimana persisnya gambaran perasaan ini.


sex, kesehatan, bergairah, orgasme, pcd, kekerasan seksual, seksualitas

Bagaimana PCD Bisa Terjadi?

Masih menurut Cosmopolitan, Dr Megan Fleming, seorang psikolog dan terapis seks klinis di New York City, mengatakan bahwa tidak setiap perasaan sedih atau marah setelah berhubungan seksual adalah PCD. Bisa saja perasaan itu ditimbulkan oleh satu pasangan (suami/istri) atau situasi di saat hubungan seksual dilakukan.  Namun, bila perasaan itu terjadi setelah berhubungan seksual dengan berbagai pasangan dan terus menerus sepanjang waktu bisa jadi orang tersebut mengalami PCD.

Faktor pendukung terkuat dari PCD terletak pada keterkaitan antara orgasme dan emosional. Pada saat orgasme terjadi pelepasan tekanan yang dapat memicu luapan emosional. Orgasme ini, kata Dr Fleming, belum tentu bisa membuat orang puas tapi sebaliknya bisa juga menimbulkan perasaan sedih atau marah.

Gambarannya seperti sesuatu yang telah dipendam lalu mencuat. Sensasi saat orgasme tersebut, sebenarnya fenomena lepasnya emosional yang ditimbun.  Pada saat momentum sensasi sepersekian detik itu terjadi, perasaan, keinginan, atau bahkan pikiran menjadi hilang.

Dr Fleming menambahkan bahwa rasa sedih atau marah setelah berhubungan seks itu bisa saja terjadi karena tidak ada definisi tunggal atas kepuasan seksualitas. Hal ini terjadi karena masing-masing pribadi tidak mengetahui seperti apa pengalaman seksual yang memuaskan itu.

Apakah PCD Bisa Ditangani?

Kendati cenderung mengarah ke perilaku negatif, PCD tidak berpengaruh terhadap keintiman seks itu sendiri. Artinya, penderita PCD tetap bisa melakukan hubungan intim. Namun, bila kondisi ini dibiarkan berlarut-larut akan berdampak pada psikologis seseorang. Pemahaman atas kondisi PCD ini juga penting untuk antisipasi dan penanganan untuk mencegah perilaku destruktif atau agresif.

Dengan kenyataan seperti itu, para ahli medis dan psikolog sejauh ini masih meneliti apakah PCD untuk bisa ditangani. Hal ini disebabkan karena para psikolog dan peneliti tidak tahu banyak tentang apa yang terjadi di otak saat berhubungan seks—apalagi sesudahnya.  

Pada 2009, menurut laporan Times, pernah ada seorang psikiater yang menangani pasien PCD. Psikiater itu memberikan sejenis antidepresan yang bernama S.S.R.I.s. Efek samping dari obat ini membuat dorongan seksual penderita menjadi rendah, namun hasilnya suasana hati mereka setelah berhubungan intim lebih stabil.

Namun, metode pengobatan ini, kata Dr. Schweitzer,  belum bisa digunakan secara luas. Belum ada bukti kuat yang menunjukkan kaitan antara permasalahan kesehatan mental seperti kecemasan atau depresi dengan PCD. Tim penelitiannya bahkan belum menemukan korelasi antara sejarah kekerasan seksual dan PCD. Artinya, kehidupan seks  bisa berakhir bahagia, namun tetap diiringi kesedihan yang misterius saat orgasme.

"Kami tidak tahu terlalu banyak karena hal ini begitu berlawanan dengan pikiran yang dominan tentang seperti apa seharusnya seks itu," kata Dr. Schweitzer.

Pikiran dominan yang bersemayam di pikiran orang banyak itu adalah ekspektasi kebahagiaan yang meluap-luap setelah berhubungan seks. Bahwa seks adalah jalan menuju kebahagiaan dan jiwa positif bagi kedua pasangan. Kenyataannya, orgasme bisa melahirkan perasaan sebaliknya: sedih, marah, hingga depresi. Lalu, siapkah Anda merasakan kemungkinan itu? 

sumber

Related Post